Arti Maintenance: Pengertian, Tujuan, dan 6 Jenisnya
Arti Maintenance: Pengertian, Tujuan, dan 6 Jenisnya

Arti Maintenance: Pengertian, Tujuan, dan 6 Jenisnya

Maintenance atau yang sering kita kenal dengan istilah perawatan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guna memelihara atau menjaga sesuatu agar tetap dalam keadaan yang baik dan optimal fungsinya. Dalam artian yang luas, maintenance dapat dilakukan terhadap berbagai hal, mulai dari mesin atau alat berat, bangunan, kendaraan, hingga terhadap sistem elektronik atau jaringan komunikasi.

Dalam dunia industri, maintenance menjadi salah satu hal yang sangat penting karena dapat mempengaruhi produktivitas dan efektivitas suatu perusahaan.

Tanpa adanya perawatan yang baik, maka keausan atau kerusakan pada mesin atau alat yang digunakan dapat terjadi lebih cepat, sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk melakukan perbaikan atau bahkan mengganti alat tersebut.

Daftar Isi Lihat

Arti dan Jenis Maintenance: Tujuan dan Tutorialnya

Arti dan Jenis Maintenance Tujuan dan Tutorialnya

Tujuan dari maintenance sendiri adalah agar dapat menjaga kondisi dan performa dari suatu barang atau peralatan, sehingga dapat terus berfungsi dengan baik tanpa terjadi kerusakan atau keausan yang berlebihan. Dengan melakukan perawatan yang rutin dan teratur, maka dapat memperpanjang usia pakai dari suatu barang, sehingga dapat menghemat biaya perbaikan atau penggantian.

Adapun 6 jenis maintenance yang umum digunakan di industri adalah sebagai berikut:

1. Preventive Maintenance (PM)

Jenis maintenance ini dilakukan secara teratur guna menghindari kerusakan pada suatu barang atau alat. Pada jenis maintenance ini dilakukan kegiatan pemeriksaan, perbaikan, dan penggantian suku cadang pada barang atau alat secara berkala.

2. Predictive Maintenance (PdM)

Jenis maintenance ini dilakukan berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari pengamatan atau pengukuran terhadap kondisi dari suatu barang atau alat. Dengan menggunakan teknologi yang lebih canggih, maka dapat diprediksi kapan suatu barang atau alat akan mengalami kerusakan atau keausan.

3. Corrective Maintenance (CM)

Jenis maintenance ini dilakukan ketika suatu barang atau alat mengalami kerusakan atau kegagalan. Tujuan dari CM adalah untuk memperbaiki atau mengganti suku cadang yang rusak agar barang atau alat dapat berfungsi kembali dengan baik.

4. Condition-Based Maintenance (CBM)

Jenis maintenance ini dilakukan berdasarkan kondisi dari suatu barang atau alat. Dalam CBM, dilakukan pengukuran dan pengamatan terhadap kondisi dari suatu barang atau alat secara berkala dan perawatan dilakukan berdasarkan hasil pengukuran tersebut.

5. Total Productive Maintenance (TPM)

Jenis maintenance ini salah satu yang paling holistik karena tidak hanya fokus pada perawatan barang atau alat, namun juga pada keberlangsungan produksi yang optimal. TPM dilakukan dengan melibatkan seluruh karyawan dan anggota tim produksi untuk bekerja sama menjaga kondisi mesin dan lingkungan kerja secara keseluruhan.

6. Run-to-Failure Maintenance (RTF)

Jenis maintenance ini dilakukan ketika suatu barang atau alat dibiarkan mengalami kerusakan dan baru dilakukan perbaikan atau penggantian ketika sudah tidak dapat berfungsi lagi. Jenis maintenance ini cenderung menghemat biaya karena perawatan dilakukan hanya ketika diperlukan, namun cenderung tidak efisien karena dapat mengganggu produktivitas jika suatu barang atau alat tiba-tiba gagal.

Dalam dunia industri, pemilihan jenis maintenance yang tepat dapat berpengaruh besar terhadap kinerja dan efektivitas dari sebuah perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memperhatikan jenis maintenance yang tepat dalam rangka menjaga keberlangsungan bisnis mereka dan menghemat biaya perawatan.

Maintenance: Pengertian dan Tujuannya

Maintenance dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan perawatan dan perbaikan yang diperlukan untuk menjaga agar suatu mesin atau fasilitas dapat berfungsi dengan baik. Meskipun terdengar sepele, namun maintenance memiliki peran yang penting dalam menjaga kelangsungan suatu bisnis karena dapat memperpanjang masa pakai mesin dan peralatan sehingga dapat menghemat biaya operasional dan memperkecil risiko kerusakan.

Ada beberapa tujuan penting dari maintenance, diantaranya:

  1. Meningkatkan efisiensi, kinerja, dan produktivitas suatu mesin atau fasilitas.
  2. Mencegah kerusakan dan memperpanjang masa pakai mesin atau fasilitas.
  3. Meningkatkan keamanan dan kesehatan kerja.
  4. Menjamin ketersediaan bahan bakar atau energi.
  5. Meningkatkan kepuasan pelanggan dengan menyediakan jasa yang lebih terpercaya dan berkualitas tinggi.
  6. Menjaga agar mesin atau fasilitas tetap memenuhi standar kualitas dan regulasi keamanan.

6 Jenis Maintenance

Ada 6 jenis maintenance yang perlu diketahui oleh pemilik bisnis, yaitu sebagai berikut:

Corrective Maintenance

Jenis maintenance ini dilakukan setelah terjadinya kerusakan atau kegagalan pada suatu mesin atau fasilitas, dengan tujuan mengembalikan kondisi mesin atau fasilitas tersebut ke dalam kondisi yang sebelumnya.

Preventive Maintenance

Jenis maintenance ini dilakukan secara terencana dan rutin untuk mencegah terjadinya kerusakan pada suatu mesin atau fasilitas, dengan melakukan inspeksi dan perbaikan pada bagian-bagian tertentu sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Conditional Maintenance

Jenis maintenance ini dilakukan setelah suatu mesin atau fasilitas mencapai batas waktu atau batas penggunaannya, dengan tujuan untuk mengevaluasi kondisi mesin dan memutuskan apakah perlu dilakukan maintenance atau tidak.

Shutdown Maintenance

Jenis maintenance ini dilakukan ketika suatu mesin atau fasilitas tidak beroperasi dalam waktu yang lama, dengan tujuan untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan.

Predictive Maintenance

Jenis maintenance ini dilakukan dengan menggunakan teknologi canggih untuk memprediksi kapan suatu mesin atau fasilitas akan mengalami kerusakan atau kegagalan, sehingga dapat dilakukan tindakan preventif sebelum terjadi kerusakan.

Opportunistic Maintenance

Jenis maintenance ini dilakukan ketika suatu mesin atau fasilitas sudah tidak bisa diperbaiki lagi, sehingga perlu dilakukan penggantian atau pengadaan mesin atau fasilitas baru.

Dengan mengetahui jenis-jenis maintenance tersebut, pemilik bisnis dapat memilih jenis maintenance yang tepat untuk mesin atau fasilitas mereka, sehingga dapat menjaga kelangsungan bisnis dan menghemat biaya operasional.

Tujuan Maintenance

Tujuan utama dari maintenance adalah agar produk atau peralatan dapat digunakan dengan aman dan terus berfungsi secara optimal. Selain itu, tujuan dari maintenance adalah untuk menjaga agar produk atau peralatan tidak mengalami kerusakan dan dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja.

Selain tujuan utama, ada juga beberapa tujuan lain dari maintenance, yaitu:

  • Memperpanjang umur produk atau peralatan
  • Mengurangi biaya penggantian produk
  • Meningkatkan efisiensi dan kinerja produk atau peralatan
  • Meningkatkan kualitas produk atau jasa yang dihasilkan
  • Memenuhi persyaratan keamanan dan kesehatan yang ditentukan

Dengan tujuan-tujuan ini, maka maintenance dapat dilakukan secara terencana dan terukur agar dapat mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.

Jenis-jenis Maintenance

Terdapat enam jenis maintenance yang dibedakan berdasarkan sifat dan jenis perawatan yang diberikan. Jenis-jenis maintenance dan penjelasannya adalah:

Baca Juga:  Cara Mengatasi Mual: Tips dan Tutorial Lengkap

Preventive maintenance

Preventive maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan atau kegagalan pada produk atau peralatan. Maintenance ini dilakukan secara terencana dan berkala, misalnya pembersihan, penggantian komponen yang rusak atau aus, dan pengecekan terhadap kondisi produk atau peralatan.

Dengan melakukan preventive maintenance, produk atau peralatan dapat terus berfungsi secara optimal dan menghindari kerusakan yang dapat berdampak pada biaya maintenance yang lebih besar.

Corrective maintenance

Corrective maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan untuk memperbaiki kerusakan atau kegagalan pada produk atau peralatan setelah terjadi. Jenis maintenance ini dilakukan untuk mengembalikan produk atau peralatan ke kondisi sebelum kerusakan dan dapat dilakukan secara tidak terencana, misalnya ketika terjadi kegagalan atau kerusakan.

Kegagalan pada produk atau peralatan ini dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, pemakaian yang berlebihan, atau faktor-faktor lain yang berpotensi mempercepat kerusakan.

Condition-based maintenance

Condition-based maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan berdasarkan kondisi produk atau peralatan. Pada jenis maintenance ini, produk atau peralatan akan terus dipantau dan dicek kondisinya, sehingga dapat diketahui kapan waktu yang tepat untuk melakukan maintenance.

Condition-based maintenance digunakan untuk menghindari kerusakan yang tidak terduga dan penggunaannya terus meningkat karena keandalannya yang tinggi.

Predictive maintenance

Predictive maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan dengan memprediksi kapan suatu produk atau peralatan akan mengalami kerusakan atau kegagalan, sehingga dapat dilakukan tindakan maintenance sebelum produk atau peralatan mengalami kerusakan.

Jenis maintenance ini menggunakan data dan informasi, seperti suhu, tekanan, atau getaran yang terdapat pada produk atau peralatan untuk memprediksikan kapan akan terjadi kerusakan. Dengan melakukan predictive maintenance, biaya maintenance dapat ditekan dan produk atau peralatan dapat terus berfungsi secara optimal.

Shutdown maintenance

Shutdown maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan ketika produk atau peralatan sedang dalam kondisi tidak beroperasi atau tidak berproduksi.

Maintenance ini dilakukan ketika produk atau peralatan memerlukan tindakan perawatan atau penggantian component pada saat produk tidak dioperasikan. Jenis maintenance ini dilakukan secara reguler dan terencana.

Opportunity maintenance

Opportunity maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan ketika terdapat kesempatan kosong pada waktu produksi. Maintenance ini dilakukan ketika waktu pause pada operasi produksi untuk melakukan kegiatan maintenance.

Pada jenis maintenance ini, produk atau peralatan akan diperiksa dan ditindaklanjuti jika terdapat kerusakan atau kekurangan. Kegiatan maintenance ini dapat dilakukan setiap kali dilakukan pergantian produksi atau pada waktu downtime.

Dalam menjalankan jenis maintenance tersebut, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan dari produk atau peralatan yang dimiliki.

Manfaat Maintenance untuk Peningkatan Produktivitas

Maintenance atau perawatan peralatan atau mesin yang kita miliki merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan. Menciptakan peralatan atau mesin yang selalu siap pakai dan berfungsi dengan baik akan membantu meningkatkan produktivitas suatu industri. Ada beberapa manfaat maintenance yang dapat diberikan untuk peningkatan produktivitas:

1. Meningkatkan Lifespan Peralatan

Salah satu manfaat maintenance adalah dapat memperpanjang umur peralatan atau mesin. Dengan melakukan maintenance pada peralatan atau mesin, kita dapat mencegah kerusakan yang lebih serius dan memperpanjang masa pakai peralatan tersebut. Hal ini tentu saja sangat membantu bagi suatu industri dalam jangka panjang, karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pembelian peralatan baru.

2. Mengurangi Risiko Kerusakan dan Kebocoran

Manfaat maintenance selanjutnya adalah dapat mengurangi risiko kerusakan dan kebocoran dalam peralatan atau mesin. Dengan melakukan maintenance secara rutin, kita dapat menemukan masalah yang mungkin terjadi pada peralatan atau mesin sebelum terjadi kerusakan yang lebih serius atau bahkan kebocoran yang dapat berbahaya bagi lingkungan sekitar.

3. Meningkatkan Efisiensi Peralatan

Manfaat maintenance lainnya adalah dapat meningkatkan efisiensi peralatan atau mesin. Peralatan atau mesin yang dirawat secara baik dan rutin akan berfungsi dengan lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan kecepatan dan kualitas produksi. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh pada produktivitas suatu industri.

4. Mengurangi Biaya Perawatan

Melakukan maintenance secara rutin juga dapat membantu mengurangi biaya perawatan. Dengan menemukan masalah pada peralatan atau mesin sejak dini, maka kita tidak perlu mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk memperbaiki masalah yang sudah parah.

Sebagai contoh, mengganti oli mesin secara rutin akan membuat mesin berfungsi lebih lancar dan tidak cepat rusak, sehingga kita dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki mesin yang sudah rusak parah.

5. Meningkatkan Keamanan Kerja

Manfaat maintenance yang terakhir adalah meningkatkan keamanan kerja. Peralatan atau mesin yang selalu dirawat secara baik dan rutin akan memiliki risiko kerusakan atau kebocoran yang lebih rendah. Hal ini tentu saja akan membuat lingkungan kerja menjadi lebih aman dan nyaman bagi karyawan.

6. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Terakhir, manfaat maintenance adalah dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Dengan memiliki peralatan atau mesin yang selalu berfungsi dengan baik dan tidak sering mengalami gangguan atau kerusakan, maka proses produksi menjadi lebih lancar dan memuaskan. Hal ini akan memberikan dampak positif pada kepuasan pelanggan dan meningkatkan reputasi suatu industri.

Dari beberapa manfaat maintenance yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa melakukan maintenance secara rutin pada peralatan atau mesin akan sangat membantu dalam meningkatkan produktivitas suatu industri dalam jangka panjang. Oleh karena itu, setiap industri sebaiknya memberikan perhatian yang serius terhadap maintenance peralatan atau mesin yang dimilikinya.

Arti Maintenance: Pengertian, Tujuan, dan Jenis-Jenisnya

Arti maintenance adalah kegiatan perawatan secara teratur yang dilakukan pada suatu mesin atau peralatan guna memperpanjang masa pakai dan memastikan bahwa peralatan tersebut selalu dalam kondisi yang optimal.

Tujuan dari melakukan maintenance adalah untuk menghindari kerusakan yang tidak terduga, meminimalisir downtime atau waktu berhenti produksi, meningkatkan efisiensi, serta memastikan bahwa peralatan tersebut selalu memenuhi standar keamanan dan kualitas yang telah ditentukan.

Jenis-Jenis Maintenance

Terdapat enam jenis maintenance, yaitu preventive maintenance, corrective maintenance, shutdown maintenance, predictive maintenance, risk-based maintenance, dan condition-based maintenance.

1. Preventive Maintenance

Preventive maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan sebelum terjadinya kerusakan pada mesin atau peralatan. Tujuannya adalah untuk mencegah atau mengurangi potensi kerusakan, sehingga meminimalisir downtime dan biaya perbaikan yang lebih besar di kemudian hari.

2. Corrective Maintenance

Corrective maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan setelah terjadinya kerusakan pada mesin atau peralatan. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kerusakan tersebut agar mesin atau peralatan dapat berfungsi kembali dengan optimal.

3. Shutdown Maintenance

Shutdown maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan ketika mesin atau peralatan dihentikan sementara waktu secara menyeluruh. Tujuannya adalah untuk melakukan perawatan atau perbaikan yang memerlukan waktu yang lebih lama dan tidak dapat dilakukan saat mesin atau peralatan sedang beroperasi.

4. Predictive Maintenance

Predictive maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan dengan menggunakan teknologi sensor dan analisis data untuk memprediksi kerusakan yang akan terjadi pada mesin atau peralatan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kerusakan sedini mungkin dan melakukan tindakan perbaikan sebelum kerusakan tersebut mengakibatkan downtime atau biaya perbaikan yang lebih besar.

5. Risk-based Maintenance

Risk-based maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan berdasarkan analisis risiko terhadap kerusakan yang terjadi pada mesin atau peralatan. Tujuannya adalah untuk meminimalisir risiko terjadinya kerusakan dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh kerusakan tersebut.

6. Condition-based Maintenance

Condition-based maintenance adalah jenis maintenance yang dilakukan dengan memperhatikan kondisi mesin atau peralatan secara terus-menerus melalui pengukuran parameter tertentu seperti suhu, kecepatan, atau tekanan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kerusakan sejak dini dan melakukan perbaikan sebelum kerusakan tersebut semakin parah atau mengakibatkan downtime.

Dalam melakukan maintenance, perlu diperhatikan jenis maintenance yang paling sesuai untuk mesin atau peralatan tertentu dan dilakukan secara teratur. Hal ini akan membantu memastikan bahwa mesin atau peralatan selalu dalam kondisi yang optimal, meminimalisir downtime, dan memastikan bahwa standar keamanan dan kualitas terpenuhi.

7. Preventive Maintenance

Maintenance atau perawatan adalah suatu tindakan yang dilakukan pada suatu alat agar tetap berfungsi dengan baik. Salah satu jenis maintenance yang umum dilakukan adalah Preventive Maintenance.

Baca Juga:  Kamera Nikon Terbaik Terlaris Bagus Indonesia

Preventive maintenance adalah tindakan perawatan yang dilakukan secara teratur untuk mencegah terjadinya kerusakan atau kegagalan pada suatu mesin atau alat. Tujuan dari tindakan ini adalah agar mesin atau alat tersebut dapat berfungsi dengan baik dan terhindar dari kerusakan yang bisa menyebabkan kerugian baik secara material maupun moral.

8. Corrective Maintenance

Corrective maintenance adalah tindakan perbaikan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan atau kegagalan pada suatu mesin atau alat. Tindakan ini tidak dilakukan secara teratur seperti preventive maintenance, melainkan hanya dilakukan ketika ada masalah pada alat tersebut.

Tujuan dari corrective maintenance adalah agar mesin atau alat dapat berfungsi kembali setelah mengalami kerusakan. Tindakan corrective maintenance meliputi perbaikan komponen yang rusak atau diganti dengan yang baru, perawatan mesin atau alat agar tidak mengalami kerusakan yang sama di masa depan, dan sebagainya.

9. Predictive Maintenance

Predictive maintenance adalah jenis perawatan yang didasarkan pada prediksi atau estimasi waktu kerusakan atau kegagalan pada mesin atau alat tertentu. Tindakan ini dilakukan berdasarkan data historis tentang performa mesin atau alat yang dikumpulkan dari penggunaannya dalam jangka waktu tertentu.

Tujuan dari predictive maintenance adalah untuk memperkirakan waktu kerusakan atau kegagalan pada mesin atau alat. Sehingga tindakan perawatan atau perbaikan dapat dilakukan sebelum terjadi kerusakan atau kegagalan yang bisa menyebabkan gangguan pada operasional mesin atau alat.

10. Condition-Based Maintenance

Condition-based maintenance adalah jenis perawatan yang dilakukan berdasarkan kondisi mesin atau alat pada saat tertentu. Melalui pengukuran kinerja mesin atau alat, tindakan perawatan bisa dilakukan pada komponen yang mengalami keausan atau kerusakan dan dianggap perlu untuk diperbaiki atau diganti.

Tujuan dari condition-based maintenance adalah untuk memastikan bahwa mesin atau alat selalu berada dalam kondisi yang baik untuk operasionalnya. Tindakan perawatan yang dilakukan termasuk pengukuran kondisi mesin atau alat, penggantian atau perbaikan komponen yang mengalami keausan atau kerusakan, dan sebagainya.

11. Total Productive Maintenance

Total Productive Maintenance (TPM) adalah jenis perawatan yang dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan produktivitas mesin atau alat. Dalam TPM, mesin atau alat dianggap sebagai bagian dari sistem produksi yang harus bekerja secara optimal agar produktivitas optimal juga tercapai.

Tujuan dari TPM adalah untuk memaksimalkan produktivitas mesin atau alat dengan cara mengurangi waktu downtime atau waktu yang digunakan untuk perawatan atau perbaikan. Tindakan perawatan yang dilakukan termasuk mengurangi responsif atau menghilangkan penyebab downtime, meningkatkan kapabilitas operator dan teknisi dalam melakukan perawatan, dan sebagainya.

12. Preventive Maintenance

Preventive Maintenance adalah maintenance yang dilakukan untuk mencegah kerusakan atau kegagalan suatu mesin atau fasilitas. Tujuannya adalah untuk memperpanjang umur pakai dan menjamin keandalan suatu mesin atau fasilitas.

Preventive maintenance dilakukan dengan menjadwalkan perawatan pada beberapa interval waktu yang telah ditentukan, seperti penggantian oli, penggantian filter udara, dan pembersihan komponen-komponen mesin. Dengan preventive maintenance, kerusakan atau kegagalan mesin akan terdeteksi lebih awal sehingga dapat dikoreksi sebelum menjadi kerusakan yang lebih serius.

13. Corrective Maintenance

Corrective Maintenance adalah maintenance yang dilakukan ketika suatu mesin atau fasilitas mengalami kerusakan atau kerusakan serius. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kerusakan atau kegagalan yang terjadi. Corrective maintenance dilakukan dengan cara melakukan perbaikan atau penggantian komponen yang rusak atau tidak berfungsi.

Corrective maintenance umumnya kurang efektif karena mesin atau fasilitas harus berhenti dan tidak dapat digunakan selama proses perbaikan dilakukan.

14. Predictive Maintenance

Predictive Maintenance adalah maintenance yang dilakukan untuk mencegah kerusakan atau kegagalan suatu mesin atau fasilitas dengan menggunakan data sensor dan sistem prediksi. Tujuannya adalah untuk mendeteksi kerusakan atau kegagalan sebelum terjadi. Predictive maintenance dilakukan dengan cara memonitor kondisi mesin atau fasilitas secara real-time menggunakan sensor dan sistem monitoring.

Dengan predictive maintenance, mesin atau fasilitas dapat diawasi secara terus-menerus dan kerusakan atau kegagalan dapat dideteksi lebih cepat sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan sebelum terjadi kerusakan yang lebih serius.

15. Shutdown Maintenance

Shutdown Maintenance adalah maintenance yang dilakukan ketika mesin atau fasilitas harus dihentikan sementara untuk dilakukan perbaikan atau pemeliharaan secara menyeluruh. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kerusakan atau keausan suku cadang tertentu, melakukan penggantian suku cadang yang sudah aus, dan mengganti komponen yang berkaitan dengan keselamatan.

Shutdown maintenance biasanya dilakukan pada mesin atau fasilitas yang digunakan dalam waktu yang lama dan membutuhkan maintenance secara periodic (periode tertentu).

16. Condition-Based Maintenance

Condition-Based Maintenance adalah maintenance yang dilakukan berdasarkan kondisi suatu mesin atau fasilitas. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kerusakan atau kegagalan yang terjadi sebelum terjadi kerusakan yang lebih serius.

Condition-based maintenance dilakukan dengan memantau kondisi mesin atau fasilitas pada interval tertentu. Pemantauan kondisi ini dilakukan dengan menggunakan sensor dan perangkat monitoring khusus untuk mendeteksi kerusakan atau kegagalan yang terjadi pada mesin atau fasilitas.

17. Total Productive Maintenance

Total Productive Maintenance adalah maintenance yang dilakukan untuk mengoptimalkan produksi suatu mesin atau fasilitas sekaligus memperbaiki kualitas produk dan memperpanjang umur pakai mesin atau fasilitas.

Tujuannya adalah untuk mengurangi downtime, meningkatkan efisiensi, dan mengoptimalkan kualitas produksi. Total Productive Maintenance dilakukan dengan cara mengintegrasikan keseluruhan operasi produksi ke dalam proses maintenance. Total Productive Maintenance dilakukan oleh seluruh tim produksi, bukan hanya oleh tim maintenance saja.

Pengertian Shutdown Maintenance

Shutdown maintenance adalah perawatan yang dilakukan pada mesin atau alat yang sudah tidak beroperasi dalam jangka waktu yang cukup lama. Proses maintenance ini bertujuan untuk memperbaiki kerusakan mesin dan menjaga kehandalan dan kinerja mesin saat kembali beroperasi.

Shutdown maintenance biasanya dilakukan setelah operasi mesin berhasil diselesaikan. Terkadang, perawatan ini dilakukan di luar waktu operasi mesin ketika terjadi permasalahan yang tidak dapat diselesaikan selama operasi normal. Dalam perawatan ini, mesin akan dimatikan untuk dicuci, diperiksa, dan dibersihkan sebelum digunakan kembali

Tujuan Shutdown Maintenance

Ada beberapa tujuan dari perawatan shutdown, di antaranya:

  • Mengurangi resiko kecelakaan saat mesin beroperasi
  • Meningkatkan kinerja mesin dan dapat mengurangi biaya operasional
  • Mengurangi biaya perbaikan dan pembelian suku cadang baru
  • Membuat mesin beroperasi secara efektif dan efisien
  • Meningkatkan umur pemakaian mesin

6 Jenis Shutdown Maintenance

Berikut adalah 6 jenis perawatan shutdown maintenance yang biasa dilakukan pada mesin atau alat:

a. Corrective Maintenance (CM)

Jenis maintenance yang dilakukan ketika terjadi kerusakan di dalam mesin atau alat ketika sedang beroperasi, sehingga menyebabkan mesin tidak dapat berjalan dengan normal. Tujuan Corrective Maintenance adalah mengembalikan mesin ke kondisi semula secepat mungkin dan mengurangi waktu tidak produktif pada saat mesin tidak berjalan normal.

b. Preventive Maintenance (PM)

Jenis maintenance yang dilakukan dengan jadwal teratur, untuk mencegah timbulnya kerusakan pada mesin atau alat. Tujuannya adalah untuk menjaga agar mesin atau alat bekerja dengan baik secara konsisten dan memperpanjang usia pemakaian alat.

c. Predictive Maintenance (PdM)

Jenis maintenance yang dilakukan dengan cara memonitor kondisi mesin atau alat ketika sedang beroperasi. Dengan menggunakan teknik tertentu, pemeliharaan dapat dilakukan pada saat yang tepat, sebelum terjadi kerusakan pada mesin atau alat.

d. Perfective Maintenance

Jenis maintenance yang dilakukan pada mesin atau perangkat keras yang fungsional, tetapi tidak efisien. Perfective maintenance bertujuan untuk meningkatkan kinerja mesin atau alat dengan memperbaiki kekurangan atau kelemahan pada mesin atau perangkat keras.

e. Adaptive Maintenance

Jenis maintenance yang dilakukan pada mesin atau alat, yang digunakan kembali untuk tujuan yang berbeda. Maintenance ini dimaksudkan untuk mengubah mesin agar dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda dengan cara melakukan modifikasi.

f. Schedule Maintenance

Jenis maintenance yang dilakukan pada mesin atau alat secara teratur sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya. Tujuannya adalah untuk mencegah timbulnya kerusakan karena memelihara mesin dengan tepat waktu sesuai jadwal dan memperpanjang usia pemakaian mesin tersebut.

g. Corrective Inspection

Maintenance ini dilakukan ketika terjadi situasi sulit atau permasalahan yang kompleks yang menyebabkan mesin atau alat tidak dapat berfungsi dengan baik. Corrective Inspection bertujuan untuk mengidentifikasi sumber masalah dengan prosedur yang tepat sehingga masalah dapat diselesaikan dan mesin dapat berjalan dengan normal.

Baca Juga:  Review Spidol Kain Bagus Indonesia

Shutdown maintenance adalah perawatan yang dilakukan pada mesin atau alat yang telah dinonaktifkan. Hal tersebut bertujuan untuk memperbaiki kerusakan mesin dan menjaga keandalan dan kinerja mesin saat diaktifkan kembali.

Terdapat enam jenis perawatan shutdown maintenance, yaitu Corrective Maintenance (CM), Preventive Maintenance (PM), Predictive Maintenance (PdM), Perfective Maintenance, Adaptive Maintenance, Schedule Maintenance, dan Corrective Inspection.

Pengertian Predictive Maintenance

Predictive Maintenance adalah teknik maintenance yang dilakukan dengan memperhatikan dan memonitor mesin dengan teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan data kondisi mesin. Teknologi tersebut meliputi sensor, sistem pemantauan, dan software yang digunakan untuk mengumpulkan data.

Untuk melakukan predictive maintenance, pertama-tama data kondisi mesin harus terlebih dahulu diumpulkan dengan menggunakan teknologi seperti sensor, sistem pemantauan, dan software. Data tersebut kemudian akan diolah oleh software untuk memberikan informasi mengenai keadaan mesin.

Tujuan dari predictive maintenance adalah untuk memprediksi kemungkinan kerusakan atau kegagalan dari mesin sebelum terjadi. Sehingga, perawatan bisa dilakukan tepat waktu dan mesin dapat bekerja dengan optimal.

Jenis-jenis Predictive Maintenance

Berikut adalah beberapa jenis predictive maintenance yang biasa digunakan:

  1. Vibration Analysis
    Teknik ini memantau getaran mesin dan menganalisis data tersebut untuk mendeteksi tanda-tanda kerusakan.
  2. Oil Analysis
    Teknik ini melibatkan pengambilan sampel oli dari mesin dan kemudian menganalisisnya untuk mendeteksi tanda-tanda kerusakan.
  3. Thermography
    Teknik ini memanfaatkan kamera termal untuk memonitor temperatur mesin dan menganalisis data tersebut untuk mendeteksi tanda-tanda kerusakan.
  4. Hose and Belt Inspections
    Teknik ini dilakukan dengan memeriksa kondisi selang dan sabuk secara teratur untuk memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda keausan yang berlebihan.
  5. Ultrasound
    Teknik ini memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk memeriksa kondisi dari mesin dan mendeteksi tanda-tanda kerusakan.
  6. Visual Inspection
    Teknik ini melibatkan pemeriksaan secara visual untuk memeriksa kondisi mesin dan mendeteksi tanda-tanda kerusakan.
  7. Infrared Inspections
    Teknik ini memanfaatkan kamera inframerah untuk memonitor suhu mesin dan menganalisis data tersebut untuk mendeteksi tanda-tanda keausan atau kerusakan.
  8. Motor Current Analysis
    Teknik ini memantau arus listrik yang digunakan oleh mesin dan menganalisis data tersebut untuk mendeteksi tanda-tanda kerusakan.

Dengan melakukan predictive maintenance, perusahaan dapat menghemat biaya perawatan dan produksi, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, dan mengurangi waktu down-time yang tidak diinginkan.

Keunggulan dan Kelemahan Risk-Based Maintenance

Risk-Based Maintenance memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri dalam penerapannya. Berikut ini adalah penjelasan mengenai keunggulan dan kelemahan dari Risk-Based Maintenance.

  • Keunggulan Risk-Based Maintenance:
    • Meminimalisir biaya maintenance
    • Menjaga konsistensi produksi dengan mengurangi downtime mesin
    • Meningkatkan efisiensi perawatan mesin
    • Meningkatkan kualitas perawatan mesin
    • Memperpanjang umur pakai mesin
  • Kelemahan Risk-Based Maintenance:
    • Membutuhkan waktu dan biaya untuk melakukan analisis risiko
    • Memerlukan pengetahuan yang mendalam tentang mesin dan proses produksi
    • Tidak selalu efektif dalam mengatasi masalah yang muncul secara tiba-tiba
    • Tidak cocok untuk mesin-mesin yang sangat kritis yang memerlukan perawatan rutin yang ketat

Keunggulan utama dari Risk-Based Maintenance adalah kemampuannya dalam meminimalisir biaya maintenance. Dengan melakukan analisis risiko dan mengevaluasi dampak kegagalan mesin atau fasilitas tersebut pada produksi perusahaan, perusahaan dapat mengurangi biaya maintenance yang tidak perlu, termasuk perawatan rutin yang tidak dibutuhkan. Selain itu, Risk-Based Maintenance juga dapat membantu meningkatkan efisiensi perawatan mesin, meningkatkan kualitas perawatan mesin, dan memperpanjang umur pakai mesin.

Namun, ada juga kelemahan dalam penerapan Risk-Based Maintenance. Analisis risiko yang kompleks dan membutuhkan waktu dapat memakan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, penerapan Risk-Based Maintenance memerlukan pengetahuan yang mendalam tentang mesin dan proses produksi, sehingga perusahaan memerlukan sumber daya manusia yang handal untuk melaksanakannya.

Tidak cocok untuk mesin-mesin yang sangat kritis yang memerlukan perawatan rutin yang ketat, Risk-Based Maintenance juga tidak selalu efektif dalam mengatasi masalah yang muncul secara tiba-tiba.

Meskipun memiliki kelemahan, penerapan Risk-Based Maintenance tetap menjadi pilihan yang baik untuk perusahaan-perusahaan yang ingin mengoptimalkan biaya maintenance dan meningkatkan konsistensi produksi. Dengan memperhatikan keunggulan dan kelemahan dari Risk-Based Maintenance, perusahaan dapat memilih strategi perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Condition-Based Maintenance

Condition-Based Maintenance (CBM) adalah salah satu jenis maintenance yang berkaitan dengan memeriksa kondisi mesin secara langsung menggunakan alat atau metode tertentu untuk menilai kondisi mesin dan menentukan kerusakan apa yang ada pada mesin. CBM menggunakan data yang diperoleh dari pengukuran parameter tertentu seperti suhu, tekanan, kebisingan dan getaran mesin. Dengan teknologi yang semakin maju, CBM dapat dilakukan dengan lebih efisien melalui sensor monitoring dan analisis data yang terprogram secara otomatis.

Sistem CBM memungkinkan tim maintenance untuk memperkirakan waktu pemeliharaan berdasarkan kondisi aktual mesin, sehingga dapat mengidentifikasi dan mengatasi masalah sebelum terjadi, mengurangi waktu henti produksi dan biaya yang terkait dengan kerusakan mesin. CBM juga dapat membantu meningkatkan keandalan mesin, meningkatkan efisiensi produksi dan memprediksi kebutuhan perawatan mesin.

Teknik CBM terutama banyak digunakan dalam industri manufaktur, transportasi dan energi. Contoh aplikasi CBM antara lain pengecekan kondisi pelumas, pengukuran keausan bantalan, dan pengecekan kebocoran sistem terkait mesin. CBM juga dapat digunakan untuk mengevaluasi potensi kerusakan pada mesin pada awal operasi atau monitor sistem yang memerlukan perawatan secara berkala.

Selain itu, CBM memiliki beberapa keuntungan diantaranya mengurangi biaya perawatan, meningkatkan produktivitas, mengurangi downtime mesin, dan meningkatkan keamanan kerja di lingkungan industri. Teknologi CBM dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja mesin dan operasional perusahaan. Namun, ada beberapa tantangan yang terkait dengan implementasi CBM, seperti biaya investasi, sumber daya manusia yang terampil dan kompeten dalam penggunaan teknologi ini.

Inovasi tumpuan pada Teknologi Informasi (TI) membawa pemanfaatan pada Maintenance berbasis kondisi. Pada ERA Industri 4.0, dikenal juga dengan Maintenance 4.0. kondisi Mesin atau Alat dapat dipantau secara online atau realtime. Hal ini memudahkan para operator maupun maintenance untuk memantau keadaan operasi mesin dan melakukan proactive maintenance.

Dalam Implementasinya, Maintenance 4.0 mempertimbangkan 3 hal antara lain:

  • Monitoring berbasis kondisi atau CBM
  • Predictive Maintenance (PdM)
  • Prescriptive Maintenance (RxM)

CBM mulai dikenal pada era Industry 2.0, dan masih menjadi strategi yang diambil dalam pencegahan pada saat industri 4.0. Hal ini memberikan penghematan waktu serta meningkatkan nilai tambah dari kerja operator dan maintenance industri.

FAQs Tentang Maintenance

1. Apa itu maintenance?

Maintenance adalah serangkaian kegiatan perawatan dan perbaikan yang dilakukan pada sebuah sistem untuk menjaga agar sistem tersebut berfungsi dengan baik.

2. Apa itu arti maintenance?

Arti maintenance adalah pemeliharaan atau perawatan yang dilakukan pada sebuah sistem, peralatan, atau mesin agar tetap berfungsi dengan baik.

3. Apa itu pengertian maintenance?

Pengertian maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan terhadap sebuah sistem untuk menjaga agar sistem tersebut berjalan dengan baik dan menghindari kerusakan pada sistem tersebut.

4. Apa tujuan dari maintenance?

Tujuan dari maintenance adalah untuk menjaga agar sistem terus berfungsi dengan baik, menghindari kerusakan, meningkatkan efisiensi, dan memperpanjang umur kerja suatu sistem.

5. Apa saja jenis-jenis maintenance?

Ada 6 jenis maintenance, yaitu:

  • Preventive Maintenance
  • Corrective Maintenance
  • Predictive Maintenance
  • Shutdown Maintenance
  • Scheduled Maintenance
  • Reactive Maintenance

Maintenance merupakan serangkaian kegiatan perawatan dan perbaikan yang dilakukan pada sebuah sistem untuk menjaga agar sistem tersebut berfungsi dengan baik. Arti maintenance adalah pemeliharaan atau perawatan yang dilakukan pada sebuah sistem agar tetap berfungsi dengan baik.

Pengertian maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan terhadap sebuah sistem untuk menjaga agar sistem tersebut berjalan dengan baik dan menghindari kerusakan pada sistem tersebut.

Tujuan dari maintenance adalah untuk menjaga agar sistem terus berfungsi dengan baik, menghindari kerusakan, meningkatkan efisiensi, dan memperpanjang umur kerja suatu sistem. Ada 6 jenis maintenance, yaitu preventive maintenance, corrective maintenance, predictive maintenance, shutdown maintenance, scheduled maintenance, dan reactive maintenance.

Setiap jenis maintenance memiliki cara dan tujuan yang berbeda-beda, sehingga pemilihan jenis maintenance yang tepat sangat penting untuk menjaga sistem tetap berfungsi dengan baik.